Slide Presentasi Model Pendidikan Islami
oleh : Drs. Aam Abdussalam M.Pd, Syarif Hidayat, S.Pd
MENGEMBANGKAN MODEL PENDIDIKAN ISLAM ALTERNATIF
(Menangkap Peluang atas diberlakukannya UU SISDIKNAS No. 20/2003)
Syarip Hidayat, S.Pd (ed.)
Diberlakukannya UU SISDIKNAS No. 20/2003 bagi pendidikan Islam khususnya merupakan harapan baru sekaligus tantangan bagi peningkatan kualitas pendidikan Islam. Dalam UU tersebut posisi sekolah- sekolah berciri khas islam sudah disejajarkan dengan sekolah umum lainnya, ini berarti dalam konfigurasi sistem pendidikan nasional secara legalitas formal eksistensinya sudah diakui tinggal adanya kemauan dari para pengelola, praktisi di pendidikan Islam ini untuk mereformasi, membenahi secara berani terhadap segala hal kelemahan- kelemahan yang ada. tentu saja persoalan visi, misi, tujuan, fungsi, kurikulum, manajemen dan organisasi pendidikan Islam, harus dikoreksi, direvisi dan bahkan direformasi secara berani, sehingga pendidikan Islam akan menjadi pendidikan yang menarik minat peserta didik tanpa mengurangi prinsip-prinsip ajaran dari sumber pokok Islam yaitu al- Qur’an dan Hadits. (lagi…)
Mengenal Ilm Gharib al-Qur’an dan Perkembangannya
Syarif Hidayat, S.Pd
Al-Qur’an merupakan sumber hukum utama sekaligus pedoman hidup bagi umat islam. Salah satu aspek kemukjizatan al- Qur’an terletak pada kefasihan, keunikan redaksi, dan kesempurnaan dari segala bentuk cacat. Selain itu al- Qur’an yang diturunkan dengan menggunakan bahasa arab tersebut juga memiliki makna- makna yang begitu dalam sehingga siapa pun dapat mengambil hikmah dan pelajaran yang banyak dari al- Qur’an. Hal tersebut barangkali tidak mengherankan, karena al- Qur’an merupakan firman Allah SWT yang maha mengetahui, al- Qur’an diliputi oleh pengetahuan-Nya[1].
Bila urutan- urutan ayat al- Qur’an kita cermati, nampaklah keserasian satu ayat dengan ayat yang mengiringinya, serasi pula makna satu ayat dengan ayat yang mengiringinya. Begitulah yang terjadi pada al- Qur’an mulai dari pembuka sampai penutupnya, mengingat manusia diliputi oleh kebodohan dan kealfaan, maka tidak ada satu pun dapat melakukan hal yang sama seperti yang ada dalam al- Qur’an.
Selain hal tersebut di atas, al- Qur’an juga memiliki pembendaharaan kata yang sangat luas termasuk di dalamnya terdapat kata- kata yang masih bersifat “asing” dari lisan orang arab baik dari segi struktur lafadz maupun kandungan maknanya. “Keasingan” lafadz dalam al-Qur’an tersebut kemudian memunculkan berbagai pandangan yang beragam dari para ulama khususnya dalam mencermati kata lafadz al- Qur’an yang masih asing di dalam komunitas arab itu sendiri. Pertanyaannya adalah apakah lafal- lafal al- Qur’an itu betul-betul semuanya asli bahasa Arab?[2] Atau memang ada beberapa lafal al-Qur’an yang sengaja Allah SWT tampilkan dari serapan sumber bahasa yang lain?. Demikianlah beberapa pertanyaan yang muncul sehingga tidaklah mengherankan tema fi Gharib al-Qur’an masuk dalam kajian ulumul Qur’an. Itulah salah satu persoalan yang akan di bahas dalam tulisan ini. selain itu pun akan di kaji pula seputar pengertian makna gharib al- Qur’an, Perbedaan pandangan para ulama terhadap al- Qur’an turun dengan bahasa arab secara keseluruhan atau ada bahasa serapan lainnya, kemudian kajian proses arabisasi (Mu’arrabah) bahasa selain arab, dan juga tulisan ini akan diakhiri dengan kajian tafsir fi gharib al- Qur’an.
Pendidikan dalam Islam merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju taklif (kedewasaan), baik secara akal, mental maupun moral, untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban-sebagai seorang hamba (abd) dihadapan Khaliq-nya dan sebagai ‘pemelihara’ (khalifah) pada semesta[1]. Karenanya, fungsi utama pendidikan adalah mempersiapakn peserta didik (generasi penerus) dengan kemampuan dan keahlian (skill) yang diperlukan agar memiliki kemampuan dan kesiapan untuk terjun ke tengah masyarakat (lingkungan). Dalam lintasan sejarah peradaban Islam, peran pendidikan ini benar-benar bisa dilaksanakan pada masa-masa kejayaan Islam. Hal ini dapat kita saksikan, di mana pendidikan benar-benar mampu membentuk peradaban sehingga peradaban Islam menjadi peradaban terdepan sekaligus peradaban yang mewarnai sepanjang Jazirah Arab, Asia Barat hingga Eropa Timur. Untuk itu, adanya sebuah paradigma pendidikan yang memberdayakan peserta didik merupakan sebuah keniscayaan.
Kemajuan peradaban dan kebudayaan Islam pada masa kejayaan sepanjang abad pertengahan, di mana peradaban dan kebudayaan Islam berhasil menguasai jazirah Arab, Asia Barat dan Eropa Timur, tidak dapat dilepaskan dari adanya sistem dan paradigma pendidikan yang dilaksanakan pada masa tersebut. (lagi…)