<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hidayat Perspektif</title>
	<atom:link href="http://hidayat1980.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hidayat1980.wordpress.com</link>
	<description>Blog ini dicipta sebagai sebuah sarana mencurahkan gagasan, hasil- hasil pemikiran, dan harapan luhur mampu mendialektikan setiap wacana kehidupan menjadi lebih Arif dan Bijaksana.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Apr 2007 05:33:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hidayat1980.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Hidayat Perspektif</title>
		<link>http://hidayat1980.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hidayat1980.wordpress.com/osd.xml" title="Hidayat Perspektif" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hidayat1980.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://hidayat1980.wordpress.com/2007/04/11/11/</link>
		<comments>http://hidayat1980.wordpress.com/2007/04/11/11/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 05:29:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syahid1980</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hidayat1980.wordpress.com/2007/04/11/11/</guid>
		<description><![CDATA[Slide Presentasi Model Pendidikan Islami oleh : Drs. Aam Abdussalam M.Pd, Syarif Hidayat, S.Pd<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hidayat1980.wordpress.com&amp;blog=972420&amp;post=11&amp;subd=hidayat1980&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hidayat1980.files.wordpress.com/2007/04/pend-islami.ppt" title="Pendidikan Islami">Slide Presentasi Model Pendidikan Islami </a></p>
<p>oleh : Drs. Aam Abdussalam M.Pd, Syarif Hidayat, S.Pd</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hidayat1980.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hidayat1980.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hidayat1980.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hidayat1980.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hidayat1980.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hidayat1980.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hidayat1980.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hidayat1980.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hidayat1980.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hidayat1980.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hidayat1980.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hidayat1980.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hidayat1980.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hidayat1980.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hidayat1980.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hidayat1980.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hidayat1980.wordpress.com&amp;blog=972420&amp;post=11&amp;subd=hidayat1980&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hidayat1980.wordpress.com/2007/04/11/11/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b1f409fdc24aa21b7e66e7776a71900?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syahid1980</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://hidayat1980.wordpress.com/2007/04/11/9/</link>
		<comments>http://hidayat1980.wordpress.com/2007/04/11/9/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 05:19:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syahid1980</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hidayat1980.wordpress.com/2007/04/11/9/</guid>
		<description><![CDATA[MENGEMBANGKAN MODEL PENDIDIKAN ISLAM ALTERNATIF (Menangkap Peluang atas diberlakukannya UU SISDIKNAS No. 20/2003) Syarip Hidayat, S.Pd (ed.) Diberlakukannya UU SISDIKNAS No. 20/2003 bagi pendidikan Islam khususnya merupakan harapan baru sekaligus tantangan bagi peningkatan kualitas pendidikan Islam. Dalam UU tersebut posisi sekolah- sekolah berciri khas islam sudah disejajarkan dengan sekolah umum lainnya, ini berarti dalam konfigurasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hidayat1980.wordpress.com&amp;blog=972420&amp;post=9&amp;subd=hidayat1980&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">MENGEMBANGKAN MODEL PENDIDIKAN ISLAM ALTERNATIF</span></strong><br />
<span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">(Menangkap Peluang atas diberlakukannya UU SISDIKNAS No. 20/2003)</span></p>
<p align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Syarip Hidayat, S.Pd (ed.)<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><a href="#_ftn1" title="_ftnref1" name="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"></span></span><!--[endif]--></span></span></a><br />
Diberlakukannya UU SISDIKNAS No. 20/2003 bagi pendidikan Islam khususnya merupakan harapan baru sekaligus tantangan bagi peningkatan kualitas pendidikan Islam. Dalam UU tersebut posisi sekolah- sekolah berciri khas islam sudah disejajarkan dengan sekolah umum lainnya, ini berarti dalam konfigurasi sistem pendidikan nasional secara legalitas formal eksistensinya sudah diakui tinggal adanya kemauan dari para pengelola, praktisi di pendidikan Islam ini untuk mereformasi, membenahi secara berani terhadap segala hal kelemahan- kelemahan yang ada. tentu saja persoalan visi, misi, tujuan, fungsi, kurikulum, manajemen dan organisasi pendidikan Islam, harus dikoreksi, direvisi dan bahkan direformasi secara berani, sehingga pendidikan Islam akan menjadi pendidikan yang menarik minat peserta didik tanpa mengurangi prinsip-prinsip ajaran dari sumber pokok Islam yaitu al- Qur’an dan Hadits.<span id="more-9"></span><br />
A.	PENDAHULUAN<br />
Pada tanggal 8 Juli 2003 presiden megawati telah meresmikan UU Sistem Pendidikan Nasional atau disingkat dengan SISDIKNAS No. 20 tahun 2003. Mulai diberlakukannya UU SISDIKNAS ini bagi lembaga- lembaga pendidikan Islam khususnya merupakan angin segar menuju pengembangan pendidikan Islam lebih baik di Indonesia. Pendidikan Islam yang selama ini merasa di anak- tirikan dari konfigurasi sistem pendidikan nasional terjawab sudah, paling tidak secara legalitas formal keberadaannya telah berada dalam payung hukum UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003 tersebut .<br />
Mulai adanya kesetaraan pengakuan dan kedudukan lembaga pendidikan Islam dalam UU ini seharusnya menjadi pemicu semangat bagi lembaga pendidikan Islam untuk segera mengejar ketertinggalan pendidikan atas pendidikan umum lainnya. Sejarah mencatat bahwa selama ini ada tiga jenis pendidikan Islam yang menonjol peranannya, yaitu pendidikan pesantren, Madrasah dan sekolah umum yang berciri khas Islam, tetapi memang kondisinya kurang begitu meyakinkan dalam hal signifikansi peranannya untuk meraih simpati masyarakat Indonesia. Kenyataan seperti ini memang ironi dalam negara yang mayoritas muslim, keberadaan pendidikan Islam kurang begitu diminati masyarakat. Tepatlah ada pepatah “Ayam mati kelaparan di lumbung padi”. Ini artinya,  kenyataannya pendidikan Islam belum mendapat kesempatan yang luas dan seimbang dengan umatnya yang besar di bumi Indonesia ini.<br />
Padahal dengan UU SISDIKNAS sekarang pendidikan Islam dipacu untuk segera tampil ke depan melakukan evaluasi dan reformasi secara berani terhadap berbagai kelemahan yang ada di internal pendidikan Islam itu sendiri. Salah satu tantangan terberat pendidikan Islam sekarang adalah dihadapkan pada tantangan dan perubahan masyarakat yang bersifat global, sehingga mau tidak mau pendidikan Islam harus bisa menyesuaikan kondisinya dengan kondisi global ini. Maka dalam hal ini perlu segera menyusun langkah- langkah strategis untuk menemukan model pendidikan Islam alternatif dan inovatif.<br />
Kondisi ini menuntut pendidikan Islam untuk bekerja serius dalam mengembangkan organisasi, manajemen, kurikulum dan sistem pembelajarannya. A. Mukti Ali menyatakan, bahwa kelemahan-kelemahan pendidikan model madrasah di Indonesia dewasa ini lebih disebabkan oleh faktor-faktor penguasaan sistem, metode, bahasa sebagai alat, ketajaman interpretasi [insight], kelembagaan [organisasi], manajemen, dan penguasaan ilmu dan teknologi. Sementara  A. Syafii Maarif, menggambarkan situasi pendidikan Islam di Indonesia sampai awal abad ini tidak banyak berbeda dengan perhitungan kasar yang dikemukakan di atas.  Sistem pendidikan Islam seperti madrasah dan pesantren yang berkembang di nusantara ini dengan segala kelebihannya, sesungguhnya belum disiapkan untuk membangun peradaban .</span></p>
<p>B. 	MENGEMBANGKAN MODEL PENDIDIKAN ISLAM ALTERNATIF<br />
Ada tiga jenis pendidikan Islam yang dikembangkan di Indonesia, jenis pendidikan formal keberadaan Madrasah Ibtidaiyah (MI) sampai dengan Madrasah Aliyah (MA) sudah disetarakan dengan sekolah umum. Majelis Taklim masuk ke pendidikan non formal dan pendidikan Pesantren masuk kategori pendidikan keagamaan .<br />
Hal senada diungkapkan Karel Steenbrink, ia menyatakan bahwa keberadaan pendidikan Islam di Indonesia cukup variatif. Tetapi Steenbrink, mengategorikan pendidikan tersebut dalam tiga jenis, yaitu pendidikan Islam yang berbasis pada pondok pesantren, madrasah dan sekolah. Beliau menuturkan bahwa ketiga jenis pendidikan ini diharapkan dapat menjadi “modal” dalam upaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan sebagai suatu paradigma didaktik- metodologis.  Sebab, pengembangan keilmuan yang integral [interdisipliner] akan mampu menjawab kesan dikotomis dalam lembaga pendidikan Islam yang selama ini berkembang.<br />
Berkaitan dengan hal ini, maka lembaga pendidikan Islam harus didesak untuk melakukan inovasi yang tidak hanya berkaitan dengan perangkat kurikulum dan manajemen saja, tetapi juga menyangkut dengan strategi dan taktik operasionalnya. Strategi dan taktik itu, menuntut perombakan model-model pendidikan sampai dengan institusi-institusinya, sehingga lebih efektif dan efisien, dalam arti pedagogis, sosiologis dan kultural dalam menunjukkan perannya .<br />
Sebetulnya keberadaan pendidikan Islam dewasa ini sebagian kecil sudah mulai diperhitungkan khususnya model pendidikan madrasah dan sekolah Islam. Terlihat sudah mulainya berbagai kejuaraan lomba antar sekolah, anak didik perwakilan dari madrasah atau sekolah Islam sering merebut prestasi yang bagus dibanding sekolah- sekolah umum. Tentu hal ini juga tidak terlepas dari peranan bermunculannya sekolah- sekolah elit (unggulkan) berciri khas Islam atau sekolah model yang keberadaannya sekarang mulai menarik minat pasar (orang tua murid) untuk menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan Islam tersebut .<br />
Maka tampaknya sekarang, kita harus berusaha melakukan koreksi secara cepat dan cermat tentang program-program pendidikan pendidikan Islam yang sedang dijalankan, sehingga perbedaan antara pendidikan Islam dengan pendidikan umum dalam konfigurasi pendidikan nasional dapat dipersempit,   Apabila kita menginginkan pendidikan Islam dapat bersaing dengan pendidikan lain, tentu saja persoalan visi, misi, tujuan, fungsi, metode, materi dan kurikulum, orientasi, manajemen dan organisasi pendidikan Islam, harus dikoreksi, direvisi dan bahkan direformasi secara berani, sehingga pendidikan Islam akan menjadi pendidikan yang menarik minat peserta didik tanpa mengurangi prinsip-prinsip ajaran dari sumber pokok Islam yaitu Qur’an dan Hadits.<br />
Upaya mencari pola atau model alternatif pendidikan Islam di Indonesia, hendaknya pengembangan pendidikan Islam menitikberatkan atau berorientasi kepada visi dan misi,  fleksibilitas, relevansi pendidikan di sekolah [formal] dan pendidikan di luar sekolah [non formal]. Dalam upaya mencari “model alternatif pendidikan Islam” yang akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia sekarang, paling tidak ada tiga pendekatan yang ditawarkan sebagai pola alternatif pendidikan Islam, yaitu [1] Pendekatan sistemik, yaitu perubahan harus dilakukan terhadap keseluruhan sistem pada lembaga pendidikan Islam formal yang ada, dalam arti terjadi perubahan total. [2] Pendekatan  suplementer, yaitu dengan menambah sejumlah paket pendidikan yang bertujuan memperluas pemahaman dan penghayatan ajaran Islam secara lebih memadai. Langkah ini yang sering dilakukan dengan istilah yang populer adalah “tambal sulam”. [3] Pendekatan komplementer, yaitu dengan upaya mengubah kurikulum dengan sedikit  radikal untuk disesuaikan secara terpadu . Artinya, untuk kondisi sekarang ini, perubahan kurikulum pendidikan Islam harus diorientasikan pada kompetensi yaitu kompetensi knowledge [pengetahuan], skill [keterampilan atau kemahiran], kompetensi ability [memiliki kemampuan tertentu], kompetensi sosial-kultural, dan kompetensi spiritual ilahiah.<br />
Dalam menghadapi perubahan dan tantangan masyarakat global, ada beberapa persoalan mendasar internal pendidikan Islam yang harus diselesaikan terlebih dahulu secara tuntas,  yaitu :<br />
Pertama, harus mengikis habis wawasan sejarah pendidikan Islam berupa persoalan dikotomik pendidikan Islam yang merupakan persoalan mendasar dari perkembangan pendidikan Islam selama ini.  Pendidikan Islam harus dijauhkan dari dikotomik, menuju pada integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum, sehingga tidak melahirkan jurang pemisah antara ilmu agama dan ilmu bukan agama. Integrasi tersebut dengan sekaligus menciptakan perangkat lunak yaitu kerangka filosofis yang jelas dan baku, ini paling tidak untuk menghindari adanya justifikasi dan menyisip- nyisipi dengan ayat-ayat Qur’an pada pendidikan pengetahuan sekarang tanpa merevisi ulang semangat filosofisnya.<br />
Tetapi upaya untuk mengikis habis persoalan dikotomis ini memang susah juga, hal ini dikarenakan masih terjadinya pro kontra dalam hal mengislamkan ilmu pengetahuan antara pemikir Islam konvensional (tradisional) dan pemikir Islam modern<br />
Kedua, perlu pemikiran kembali tujuan dan fungsi lembaga-lembaga pendidikan Islam. Artinya lembaga-lembaga pendidikan tidak hanya berorientasi atau memenuhi keinginan kepentingan akhirat saja dengan mengajarkan keterampilan beribadah saja. Hal itu pun, masih dirasakan apabila pendidikan Islam “dipandang dari dimensi ritual masih jauh dalam memberikan pengayaan spiritual, etika dan moral” .  Memang diakui, bahwa peserta didik secara verbal kognitif dapat memahami ajaran Islam dan terampil dalam melaksanakannya [psikomotorik], tetapi kurang menghayati [afektif] kedalaman maknanya. Oleh karena itu, lembaga-lembaga pendidikan Islam harus menjadikan pendidikannya tersebut sebagai tempat untuk mempelajari ilmu-ilmu agama [spiritual ilahiah], ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan atau kemahiran, seni dan budaya serta etika dan moral ilahiah.<br />
Selain persoalan tersebut di atas, pendidikan Islam sekarang ini juga dihadapkan pada persoalan-persoalan yang cukup kompleks, yakni persoalan reformasi dan globalisasi menuju masyarakat  Indonesia baru.  Tantangan yang dihadapi sekarang adalah bagaimana upaya untuk  membangun paradigma baru pendidikan Islam, visi, misi, dan tujuan, yang didukung dengan sistem kurikulum atau materi pendidikan, manajemen dan organisasi, metode pembelajaran untuk dapat mempersiapkan manusia yang berkualitas, bermoral tinggi dalam menghadapi perubahan masyarakat global yang begitu cepat, sehingga produk pendidikan Islam tidak hanya melayani dunia modern, tetapi mempunyai pasar baru atau mampu bersaing secara kompetitif dan proaktif dalam dunia masyarakat modern, global dan informasi.  Perubahan yang perlu dilakukan pendidikan Islam, yaitu:  [1]  Membangun sistem pendidikan Islam yang mampu mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas agar mampu mengantisipasi kemajuan IPTEK untuk menghadapi tantangan dunia global menuju masyarakat Indonesia baru yang dilandasi dengan nilai-nilai ilahiah, kemanusiaan [insaniyah], dan masyarakat, serta budaya. [2] Menata manajemen pendidikan Islam dengan berorientasi pada manajemen berbasis sekolah agar mampu menyerap aspirasi masyarakat, dapat mendayagunakan potensi masyarakat dan daerah [otonomi daerah] dalam rangka penyelenggaraan pendidikan Islam yang berkualitas. [3] Meningkatkan demokratisasi penyelenggaraan pendidikan Islam secara berkelanjutan dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat agar dapat menggali serta mendayagunakan potensi masyarakat.<br />
Dari uraian di atas, menegaskan bahwa lembaga-lembaga pendidikan Islam harus mendisain model-model pendidikan alternatif yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan sekarang ini. Muncul pertanyaan model-model pendidikan Islam yang bagaimana? Yang diharapkan dapat menghadapi dan menjawab tantangan perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat baik sosial maupun kultural menuju masyarakat Indonesia baru. Untuk menjawab pertanyaan ini,  meminjam prinsip hakikat pendidikan Islam yang digunakan Hasim Amir, yang mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan yang idealistis, yakni pendidikan yang integralistik, humanistis, pragmatik dan berakar pada budaya kuat    Tawaran Hasim Amir ini, yang dikutip A. Malik Fadjar, dapat digunakan sebagai konsep pendidikan Islam dalam menghadapi perubahan masyarakat Indonesia, yaitu :<br />
Pertama,  pendidikan  integralistik,  merupakan model pendidikan yang diorientasikan pada komponen-komponen kehidupan yang meliputi: Pendidikan yang berorientasi pada Rabbaniyah [Ketuhanan], insaniyah [kemanusiaan] dan alamiyah [alam pada umumnya], sebagai suatu yang integralistik bagi perwujudan kehidupan yang baik dan untuk mewujudkan  rahmatan lil ‘alamin, serta pendidikan yang menganggap manusia sebagai sebuah pribadi jasmani- rohani, intelektual, perasaan dan individual- sosial. Pendidikan integralistik diharapkan dapat menghasilkan manusia [peserta didik] yang memiliki integritas tinggi, yang dapat bersyukur dan menyatu dengan kehendak Tuhannya, menyatu dengan dirinya sendiri sehingga tidak memiliki kepribadian belah atau kepribadian mendua (split personality), menyatu dengan masyarakat sehingga dapat menghilangkan disintegrasi sosial, dan dapat menyatu dengan alam sehingga tidak membuat kerusakan di alam , tetapi menjaga, memelihara dan memberdayakan serta mengoptimalkan potensi alam sesuai kebutuhan manusia.<br />
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa konsep pendidikan Islam adalah pendidikan yang bersumber dari konsep Ketuhanan [Teosentris], artinya pendidikan Islam harus berkembang dan dikembangkan berdasarkan teologi tersebut. Konsep kemanusiaan, artinya dengan konsep ini dapat dikembangkannya antropologi dan sosiologi pendidikan Islam, dan konsep alam  dapat dikembangkannya konsep pendidikan kosmologi  dan ketiga konsep ini harus dikembangkan utuh, seimbang dan integratif.<br />
Kedua,  pendidikan yang humanistik,    merupakan model pendidikan yang berorientasi dan memandang manusia sebagai manusia [humanisasi], yakni makhluk ciptaan Tuhan dengan fitrahnya. Maka manusia sebagai makhluk hidup, ia harus mampu melangsungkan, mempertahankan, dan mengembangkan hidupnya.  Maka posisi pendidikan dapat membangun proses humanisasi, artinya menghargai hak-hak asasi manusia, seperti hak untuk berlaku dan diperlakukan dengan adil, hak untuk menyuarakan kebenaran, hak untuk berbuat kasih sayang, dan lain sebagainya.<br />
Pendidikan humanistik, diharapkan dapat mengembalikan peran dan fungsi manusia yaitu mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai sebaik-baik makhluk [khairu ummah] . Maka, manusia “yang manusiawi” yang dihasilkan oleh pendidikan yang humanistik diharapkan dapat  mengembangkan dan membentuk manusia berpikir, berasa dan berkemauan dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang dapat mengganti sifat individualistik, egoistik, egosentris dengan sifat kasih sayang kepada sesama manusia,  sifat menghormati dan dihormati, sifat ingin memberi dan menerima, sifat saling menolong, sifat ingin mencari kesamaan, sifat menghargai hak-hak asasi manusia, sifat menghargai perbedaan dan sebagainya .<br />
Ketiga,   pendidikan pragmatik adalah pendidikan yang memandang manusia sebagai makhluk hidup yang selalu membutuhkan sesuatu untuk melangsungkan, mempertahankan dan mengembangkan hidupnya baik bersifat jasmani maupun rohani, seperti berpikir, merasa, aktualisasi diri, keadilan, dan kebutuhan spiritual ilahiah. Dengan demikian, model pendidikan dengan pendekatan pragmatik diharapkan dapat mencetak manusia pragmatik yang sadar akan kebutuhan-kebutuhan hidupnya, peka terhadap masalah-masalah sosial kemanusiaan dan dapat membedakan manusia dari kondisi dan situasi yang tidak manusiawi.<br />
Keempat,  pendidikan yang berakar pada budaya, yaitu pendidikan yang tidak meninggalkan akar-akar sejarah, baik sejarah kemanusiaan pada umumnya maupun sejarah kebudayaan suatu bangsa, kelompok etnis, atau suatu masyarakat tertentu. Maka dengan model pendidikan yang berakar pada budaya, diharapkan dapat membentuk manusia yang mempunyai kepribadian, harga diri, percaya pada diri sendiri, dan membangun peradaban berdasarkan budaya sendiri yang akan menjadi warisan monumental dari nenek moyangnya dan bukan budaya bangsa lain . Tetapi dalam hal ini bukan berarti kita menjadi orang yang anti kemodernan, perubahan, reformasi dan menolak begitu saja arus transformasi budaya dari luar tanpa melakukan seleksi dan alasan yang kuat.<br />
Keempat model pendidikan Islam yang dikemukakan di atas merupakan tawaran desain dan model pendidikan Islam yang perlu diupayakan untuk membangun paradigma pendidikan Islam dalam menghadapi perkembangan perubahan zaman modern dan memasuki masyarakat madani Indonesia. Kecenderungan perkembangan semacam, dalam upaya mengantisipasi perubahan zaman dan merupakan hal yang wajar-wajar saja. Sebab kondisi masyarakat sekarang ini lebih bersifat praktis- pragmatis dalam hal aspirasi dan harapan terhadap pendidikan, sehingga pendidikan tidak statis atau hanya berjalan di tempat dalam menatap persoalan-persoalan yang dihadapi pada era masyarakat modern, post modern dan masyarakat global.</p>
<p>C. 	KESIMPULAN<br />
Dengan demikian, apapun model pendidikan Islam yang ditawarkan dalam masyarakat  Indonesia, pada dasarnya harus berfungsi untuk memberikan kaitan antara peserta didik dengan nilai-nilai ilahiah,  pengetahuan dan keterampilan, nilai-nilai demokrasi, masyarakat dan lingkungan sosiokulturalnya  yang terus berubah dengan cepat, sebab pada saat yang sama pendidikan secara sadar juga digunakan sebagai instrumen untuk perubahan dalam sistem politik, ekonomi dan sendi kehidupan secara keseluruhan. Wallahu a’lam.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Arifin, M, “Kapita Selekta Pendidikan”, (Jakarta: Bina Aksara. 1991)<br />
Fadjar, A. Malik. Reformasi Pendidikan Islam, (Jakarta: Fajar Dunia.1999)<br />
Maarif, A.Syafii. “Keutuhan dan Kebersamaan dalam Pengelolaan Pendidikan Sebagai Wahana Pendidikan Muhammadiyah”, makalah disampaikan pada Rakernas Pendidikan Muhammadiyah, di Pondok Gede, (Jakarta: 1996)<br />
Qomar, Mujamil. “Epistemologi Pendidikan Islam; dari Metode Rasional hingga Metode Kritik”. (Jakarta: Erlangga.2005)<br />
Suroyo, “Perbagai Persoalan Pendidikan; Pendidikan Nasional dan Pendidikan Islam di Indonesia”, Jurnal Pendidikan Islam, Kajian tentang Konsep Pendidikan Islam, Problem dan Prospeknya, Volume 1 Tahun 1991, Fakultas Tarbiyah IAIN, (Yogyakarta: 1991)<br />
Steenbrink, Karel A., “Pesantren Madrasah Sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Moderen”, Cet. Kedua, (Jakarta: LP3ES,1994)<br />
Syafii Maarif, Ahmad., “Pendidikan Islam dan Proses Pemberdayaan Bangsa, dalam: Muslih Usa [Penyun.], Pendidikan Islam dalam Peradaban Industrialisasi, Aditya Media bekerja sama dengan Fakultas Tarbiyah UII, (Yogyakarta: 1997)<br />
Rahman, Fazlur., “Islam dan Modernitas tentang Transformasi Intelektual”, Terj. Ahsin Mohammad, (Bandung: Pustaka.1985)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hidayat1980.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hidayat1980.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hidayat1980.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hidayat1980.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hidayat1980.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hidayat1980.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hidayat1980.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hidayat1980.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hidayat1980.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hidayat1980.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hidayat1980.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hidayat1980.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hidayat1980.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hidayat1980.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hidayat1980.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hidayat1980.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hidayat1980.wordpress.com&amp;blog=972420&amp;post=9&amp;subd=hidayat1980&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hidayat1980.wordpress.com/2007/04/11/9/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b1f409fdc24aa21b7e66e7776a71900?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syahid1980</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://hidayat1980.wordpress.com/2007/04/11/8/</link>
		<comments>http://hidayat1980.wordpress.com/2007/04/11/8/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 05:01:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syahid1980</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hidayat1980.wordpress.com/2007/04/11/8/</guid>
		<description><![CDATA[Mengenal Ilm Gharib al-Qur’an dan Perkembangannya Syarif Hidayat, S.Pd Pendahuluan Al-Qur&#8217;an merupakan sumber hukum utama sekaligus pedoman hidup bagi umat islam. Salah satu aspek kemukjizatan al- Qur&#8217;an terletak pada kefasihan, keunikan redaksi, dan kesempurnaan dari segala bentuk cacat. Selain itu al- Qur&#8217;an yang diturunkan dengan menggunakan bahasa arab tersebut juga memiliki makna- makna yang begitu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hidayat1980.wordpress.com&amp;blog=972420&amp;post=8&amp;subd=hidayat1980&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Mengenal Ilm Gharib al-Qur’an dan Perkembangannya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="center"><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Syarif Hidayat, S.Pd</span></em></strong></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Pendahuluan</span></em></strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Al-Qur&#8217;an merupakan sumber hukum utama sekaligus pedoman hidup bagi umat islam. Salah satu aspek kemukjizatan al- Qur&#8217;an terletak pada kefasihan, keunikan redaksi, dan kesempurnaan dari segala bentuk cacat. Selain itu al- Qur&#8217;an yang diturunkan dengan menggunakan bahasa arab tersebut juga memiliki makna- makna yang begitu dalam sehingga siapa pun dapat mengambil hikmah dan pelajaran yang banyak dari al- Qur&#8217;an. Hal tersebut barangkali tidak mengherankan, karena al- Qur&#8217;an merupakan firman Allah SWT yang maha mengetahui, al- Qur&#8217;an diliputi oleh pengetahuan-Nya<a href="#_ftn1" title="_ftnref1" name="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Bila urutan- urutan ayat al- Qur&#8217;an kita cermati, nampaklah keserasian satu ayat dengan ayat yang mengiringinya, serasi pula makna satu ayat dengan ayat yang mengiringinya. Begitulah yang terjadi pada al- Qur&#8217;an mulai dari pembuka sampai penutupnya, mengingat manusia diliputi oleh kebodohan dan kealfaan, maka tidak ada satu pun dapat melakukan hal yang sama seperti yang ada dalam al- Qur&#8217;an.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Selain hal tersebut di atas, al- Qur&#8217;an juga memiliki pembendaharaan kata yang sangat luas termasuk di dalamnya terdapat kata- kata yang masih bersifat &#8220;asing&#8221; dari lisan orang arab baik dari segi struktur lafadz maupun kandungan maknanya. &#8220;Keasingan&#8221; lafadz dalam al-Qur&#8217;an tersebut kemudian memunculkan berbagai pandangan yang beragam dari para ulama khususnya dalam mencermati kata lafadz al- Qur&#8217;an yang masih asing di dalam komunitas arab itu sendiri. Pertanyaannya adalah apakah lafal- lafal al- Qur&#8217;an itu betul-betul semuanya asli bahasa Arab?<a href="#_ftn2" title="_ftnref2" name="_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Atau memang ada beberapa lafal al-Qur&#8217;an yang sengaja Allah SWT tampilkan dari serapan sumber bahasa yang lain?. Demikianlah beberapa pertanyaan yang muncul sehingga tidaklah mengherankan tema <em>fi Gharib al-Qur&#8217;an </em>masuk dalam kajian ulumul Qur&#8217;an. Itulah salah satu persoalan yang akan di bahas dalam tulisan ini. selain itu pun akan di kaji pula seputar pengertian makna gharib al- Qur&#8217;an, Perbedaan pandangan para ulama terhadap al- Qur&#8217;an turun dengan bahasa arab secara keseluruhan atau ada bahasa serapan lainnya, kemudian kajian proses arabisasi (<em>Mu&#8217;arrabah)</em> bahasa selain arab, dan juga tulisan ini akan diakhiri dengan kajian tafsir fi gharib al- Qur&#8217;an.</span></p>
<p><span id="more-8"></span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Pengertian kata Gharib      dalam al-Qur&#8217;an</span></em></strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kata al- Gharib (</span><strong><span dir="rtl" style="font-family:Arial;">الغريب</span></strong><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span>) merupakan <em>Isim Fail</em> dari </span><span dir="rtl"></span><span dir="rtl" style="font-family:Arial;"><span dir="rtl"></span>(<strong>غرب- يغرب- غرابة)</strong></span><a href="#_ftn1" title="_ftnref1" name="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">, bentuk jamaknya </span><span dir="rtl"></span><span dir="rtl" style="font-family:Arial;"><span dir="rtl"></span>(<strong>غرباء)</strong></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span>, dan juga ada kata </span><strong><span dir="rtl" style="font-family:Arial;">الغربة و الغرب)</span></strong><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span>)</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> yang menunjukan kepada arti : </span><span dir="rtl"></span><strong><span dir="rtl" style="font-family:Arial;"><span dir="rtl"></span>(بعيد عن وطنه لا احد له ولا معين له)</span></strong><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span>, seperti kita berkata: <em>orang itu asing, ucapan itu asing atau sesuatu itu asing</em><a href="#_ftn2" title="_ftnref2" name="_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>. Sementara itu, Imam abu sulaiman maksud dari ucapan gharib itu artinya &#8216;sulit untuk dipahami atau paling tidak mengarah pada pemahaman bahwa untuk memahami lafadz tersebut diperlukan usaha berfikir yang mendalam&#8217;. Begitu juga Imam At-Taftazani dalam &#8220;litalkhish al-Miftah&#8221; memaknai kata <em>Gharib </em>dengan: a). kata yang belum nampak maknanya dan jarang digunakan&#8221;; b). &#8220;kata yang tidak umum digunakan&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Perbedaan Pandangan      seputar apakah di dalam al-Qur&#8217;an terdapat <span> </span>lafal yang bukan bahasa orang- orang<span>  </span>Arab?</span></em></strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Sebenarnya, para ulama telah sepakat bahwa al-Qur&#8217;an itu berbahasa arab, hanya saja mereka berselisih pendapat tentang: <em>Apakah dalam al-Qur&#8217;an itu terdapat terdapat kata- kata yang berasal bukan dari bahasa orang- orang arab?</em> Dalam hal ini, terdapat 2 aliran:</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aliran pertama</span></em></strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">, </span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span> </span>yaitu      aliran jumhur. Tokohnya adalah al-Qadhi Abu Bakar, Ibnu at- Tayib, al-      Bakilani, Imam Syafi&#8217;i dan ulama lain. Mereka mengatakan, &#8221;      al-Qur&#8217;an<span>  </span>itu keseluruhannya      berbahasa arab, dan didalamnya tidak terdapat kata- kata yang dinisbatkan      pada bahasa lain.&#8221; hanya saja kata-kata itu sesuai dan berlaku pada      bahasa- bahasa lain, sehingga orang Arab, Parsi, Habasyah, dan lainnya      menggunakan kalimat itu.&#8221;</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Kemudian ditegaskan pula, banyak nash al-Qur&#8217;an yang menunjukan bahwa al-Qur&#8217;an itu berbahasa arab, baik susunan, lafalnya, uslubnya dan ucapannya diantara nash- nash tersebut adalah :</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Firman Allah:</span></em></li>
</ol>
<p><span dir="ltr"></span><em><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span>&#8220;Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, Dengan bahasa Arab yang jelas.&#8221; </span></em><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial Narrow';">(Qs. Asyu&#8217;ara:194-195)</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Firman Allah:</span></em></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span dir="ltr"></span><em><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span>&#8220;Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, Yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui&#8221;. (Qs. Fushilat:3)</span></em></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Firman Allah:</span></em></li>
</ol>
<p><span dir="ltr"></span><em><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span>&#8220;Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya&#8221;</span></em><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial Narrow';">. (Qs. Yusuf:2)</span><span style="font-size:8pt;font-family:'Arial Narrow';"></span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Firman Allah:</span></em></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;(ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya </span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial Narrow';">mereka bertakwa.&#8221;</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial Narrow';"> (Qs. Az-Zumar: 28)</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Aliran Kedua</span></em></strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">, </span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">yaitu aliran kelompok ulama yang mengatakan bahwa      di dalam al-Qur&#8217;an terdapat lafal yang bukan bahasa Arab. Lafal- lafal itu      karena jumlahnya sedikit, sehingga tidak bisa mengeluarkan kedudukan al-Qur&#8217;an      sebagai bahasa Arab yang jelas, seperti lafal </span><strong><span dir="rtl" style="font-size:14pt;font-family:Arial;">المشكاة</span></strong><span dir="ltr"></span><span style="font-size:13pt;font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">yang berarti <em>kuwwah</em>, lafal &#8220;Al-Kifly&#8221; yang      berarti<span>  </span><em>ad-da&#8217;fu </em>lafal <em>&#8220;qasyarah&#8221;</em>      yang berarti asad. Semua lafal ini berasal dari <em>Habasyah,</em> bukan      bahasa arab. Begitu juga lafal-lafal di bawah ini:</span></li>
</ol>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Lafal <em>Al-Qistas</em> artinya adil/<em>mizan</em> berasal dari Rum</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;As-Sijjil&#8221;</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> artinya <em>&#8220;Al-H</em>ijarah&#8221; dan <em>&#8220;At-Tin&#8221;</em>      dari bahasa Parsi.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Al-Gassaq&#8221;</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> artinya <em>&#8220;Al-Baridul Muntin&#8221; </em>dari      bahasa Turki</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Al-Yammu&#8221;</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> artinya <em>&#8220;Al-Bahru&#8221;</em> dan <em>&#8220;At-Tur&#8221;</em>      artinya <em>&#8220;Al-Jabal&#8221; </em>berasal dari bahasa Suryani</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Sundus&#8221;</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> artinya ar-Raqiq min as-satr dari bahasa      hindi</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Istibraaq&#8221;</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> artinya al-Ghalid (tanpa Qaf) dari bahasa      parsi</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Tha-ha&#8221;</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> artinya ya rojul dari bahasa Ibrani</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Siiniin&#8221;</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> artinya Hasan dari bahasa nubtiyah</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Waraa&#8217;ahum malik&#8221;</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> artinya amaamahum dari bahasa qibti</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Aliim&#8221; </span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">artinya al- Bahr dari bahasa qibti</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;al-Aabb&#8221;</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> artinya al- Hasyisy<a href="#_ftn3" title="_ftnref3" name="_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>      (sejenis tumbuhan yang memabukkan) dari bahasa orang barat</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Inna naasyiat al-Lail&#8221;<a href="#_ftn4" title="_ftnref4" name="_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">[4]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> artinya      Qooma min al-Lail dari bahasa habsy.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Abariq&#8221; </span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">menurut Ats-tsa&#8217;labi di dalam fiqh lughah,      kata itu berasal dari bahasa parsi, sedangkan menurut al-Juwailiqi kata      itu merupakan unsur serapan bahasa arab dari bahasa parsi. Artinya adalah      kendi tempat menyimpan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Ibla&#8217;i&#8221; </span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">menurut ibnu Hatim telah mengeluarkan riwayat      dari Wahhab bin Munabbih tentang firman Allah, <em>&#8220;Ibla&#8217;i      ma&#8217;aka&#8221;.</em> Ibnu Munabih mengatakan bahwa kata itu berasal dari      bahasa Habsy yang artinya adalah <em>telanlah (izdarihii).</em></span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Akhlad&#8221;</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> berasalh dari bahasa Ibriyah, dalam al-      Irsyad, Al- Wasithi mengatakan dengan ungkapan &#8220;<em>Aklada ila      ard&#8221;.</em> Maksudnya adalah menempel/melekat pada bumi.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Al-&#8217;Ara&#8217;ik&#8221;</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> berasal dari bahasa Habsyi, di dalam funun      al-Afnan, Ibnu al-Jauzi menuturkan bahwa maknanya adalah singgasan raja      (sarir)</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Asfar&#8221;</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> berasal dari bahasa suryani, dalam al-Irsyad,      Al-Wasithi mengatakan bahwa maknanya adalah kitab- kitab.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Ishri&#8221;</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> berasal dari bahasa Nabathi, dalam lughat      al-Qur&#8217;an, Abu Qasim mengatakan bahwa maknanya adalah &#8220;janjiku&#8221;.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Akwab&#8221;</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> berasal dari bahasa Nabathi, Ibnu al-Jauzi      mengartikan sebagai gelas</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Inahu&#8221;</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> berasal dari penduduk barat, maknanya adalah      matang</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Awwah&#8221; </span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">berasal dari bahasa Habsyi artinya penyantun</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Awwab&#8221; </span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">berasal dari bahasa Habsyi artinya disucikan</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Batha&#8217;inuha&#8221; </span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">berasal dari bahasa Qibthi, syadalah pernah      mengatakan mengenai firman Allah: <em>Batha&#8217;inuha min istabroq,</em> yakni      bagian luarnya (zhawahiruha).</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Ibnu Atiyah berkata, &#8220;sebenarnya lafal-lafal ini asalnya bahasa Ajam (bukan Arab), namun karena orang-orang arab menggunakannya dan mengarabkannya. Maka lafal- lafal itu menjadi bahasa<span>  </span>Arab. Sebenarnya, orang arab itu sendiri mendapatkan pencampuran dari bahasa lain dari tetangganya, sehingga mereka terpengaruh dengan lafal- lafal <em>Ajam</em> yang mereka gunakan dalam syair- syair dan pembicaraanya. Kemudian lafal- lafal itu berlaku seperti bahasa Arab yang sahih, secara demikianlah al-Qur&#8217;an diturunkan<a href="#_ftn5" title="_ftnref5" name="_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>&#8220;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Alasan- alasan Jumhur Ulama (Aliran Pertama)</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span>                </span>Jumhur Ulama beralasan dengan dalil- dalil yang menegskan bahwa al-Qur&#8217;an itu berbahasa arab dan didalamnya tidak terdapat lafal- lafal yang bukan bahasa arab atau nama- nama benda yang bukan bahasa arab. Seperti kata <em>Israil, Jibril, Imran, Nuh, dan Luth.</em> Mereka beralasan dengan dalil- dalil sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span>a.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">                         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Seringnya al-Qur&#8217;an mengulang- ulang lafal </span><span dir="rtl"></span><span dir="rtl" style="font-size:14pt;font-family:Arial;"><span dir="rtl"></span>&#8220;قرانا عربيا&#8221;</span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:17pt;font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">di berbagai tempat dalam al-Qur&#8217;an, sedangkan telah kita mafhumi bahwa lafal al-Qur&#8217;an itu umum, mencakup semua surat dan semua ayat, mencakup pula semua kalimat dan kosa- kata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span>b.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">                         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Al-Qur&#8217;an diturunkan dengan bahasa orang arab agar mereka bisa memahami dan merenungkan artinya. Mustahil Allah SWT memberikan firman-Nya kepada suatu bangsa dengan bahasa yang tidak dimengerti mereka.<a href="#_ftn6" title="_ftnref6" name="_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span>c.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">                         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Allah SWT menolak anggapan orang musyrik arab tatkala mereka mengira bahwa muhammad SAW menerima al-Qur&#8217;an dari salah seorang ahli kitab<a href="#_ftn7" title="_ftnref7" name="_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> kemudian Allah membantah anggapan mereka dengan firman Allah dalam Qs. An-Nahl:103</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span dir="ltr"></span><em><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span>&#8220;Dan Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: &#8220;Sesungguhnya Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)&#8221;. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa &#8216;Ajam<a href="#_ftn8" title="_ftnref8" name="_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial Narrow';">[8]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a>, sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.&#8221;</span></em><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial Narrow';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span>d.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">                         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Seandainya dalam al-Qur&#8217;an terdapat lafal yang bukan bukan dari bahasa Arab atau lafal- lafalnya <em>Ajam</em>, pasti orang musyrik arab akan mengumumkan untuk menentang al-Qur&#8217;an dan berhujah atas ketidak benaran nubuwwah rasul SAW seperti firman Allah SWT:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;Dan Jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: &#8220;Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?&#8221; Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (Rasul adalah orang) Arab&#8221;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span>e.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">                         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Terdapatnya dalam al-Qur&#8217;an lafal yang dinisbatkan kepada bahasa lain pada dasarnya karena persesuaian bahasa, dengan arti lafal tersebut dipakai bersama oleh orang Arab, parsi dan lain- lain dan hal ini tidak berarti mengeluarkan kedudukannya sebagai bahasa arab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Setelah kita kemukakan dua pendapat&#8217; lengkap dengan masing- masing alasan mereka, maka dapat disimpulkan bahwa pendapat yang paling <em>sahih</em> adalah pendapat yang dikemukakan oleh at- Tabari dan jumhur ulama yang mengemukakan bahwa keseluruhan al-Qur&#8217;an adalah berbahasa arab. Alasan ini didukung oleh beberapa nash al-Qur&#8217;an yang meng-iyakan hal tersebut<a href="#_ftn9" title="_ftnref9" name="_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>.</span><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><br />
</span></em></strong></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Sejarah Proses      Arabisasi<span>  </span>lafadz- lafadz <span> </span>Selain Bahasa Arab</span></em></strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Proses Arabisasi (ta&#8217;rib) menghasilkan suatu kata menjadi bahasa arab, hal ini lumrah terjadi pada setiap orang arab pada setiap masa dan boleh melakukannya, asalkan dengan prasyarat mampu menempatkan suatu kata sesuai dengan aturan ketata- bahasaan arab dan huruf- hurufnya, tetapi proses arabisasi hanya berlaku bagi nama- nama benda saja tidak berlaku untuk umum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Arabisasi merupakan kebiasaan dan keahlian tersendiri bagi orang arab. Sebagai contoh kata telephone (bahasa inggris) terdapat wazannya dalam bahasa arab yakni <em>fa&#8217;lulun.</em> Karena itu kata telephone berubah menjadi <em>talfun (yaitu ta, lam, fa,wawu, dan nun).</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Perlu diketahui, bahwa proses arabisasi harus dibatasi pada nama- nama benda yang terindera saja. Sedangkan lafadz- lafadz yang menunjukkan pada makna-makna, maka bangsa arab telah membuat <em>al-isytiqaq</em> (yaitu pengambilan suatu kata dari asal katanya). Kabilah- kabilah arab yang menjadi sumber pengambilan bahasa arab adalah, Qurais, Tamim, Qais, Asad, Hudzail, sebagian kabilah Kinanah dan Tha&#8217;iy. Terhadap kabilah- kabilah tersebut diserahkan kata- kata asing (Gharib), I&#8217;rab dan Tashrif. Tetapi dari sekian banyak kabilah tersebut hanya kabilah Quraisy lah yang dipandang mempunyai tingkat kefasihan, keindahan dan kelemahlembutan bahasanya paling tinggi, mereka akan memilih bahasa asing tersebut kemudian dikumpulkan, dan setelah diproses jadilah bahasa milik mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Namun demikian, mereka pun membiarkan bahasa- bahasa yang miskin (terbatas pengucapannya) contohnya: </span><span dir="rtl" style="font-size:14pt;font-family:Arial;">كالكشكشة</span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span> , </span><span dir="rtl" style="font-size:14pt;font-family:Arial;">بكش</span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span>, </span><span dir="rtl" style="font-size:14pt;font-family:Arial;">عليكش</span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span> dan masih banyak lagi<a href="#_ftn10" title="_ftnref10" name="_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Memahami Tafsir Fi-Gharib      Al-Qur&#8217;an </span></em></strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span>                </span>Dibawah ini, penulis akan memamparkan kondisi beberapa hadits berkenaan dengan keberadaan lafal <em>Gharib </em>dalam al-Qur&#8217;an. Para ulama menunjukkan beberapa contoh kata- kata &#8220;yang asing&#8221; yang maknanya samar bagi generasi pertama kaum muslimin:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial Narrow';"><span> </span>a. &#8216;Abu Ubaidah dalam kitab al-Fadhail meriwayatkan dari ibrahim at- Taimi bahwa abu bakar ash-Shidiq pernah ditanya tentang firman Allah ta&#8217;ala yang berbunyi <em>Wafaakihatan wa abba, </em>ia menjawab: &#8216;langit manakah yang akan memayungi dan bumi manakah yang akan aku injaki kalau saya sampai mengatakan apa yang saya tidak ketahui mengenai kitab Allah. Ia meriwayatkan dari Anas bahwa Umar bin Khatab membaca di atas mimbar ayat yang berbunyi <em>Wafaakihatan wa abba</em>. Kemudian ia berkata: &#8216;Kata <em>faakihatan</em> ini kami mengenalnya, namun apa arti abba?, kemudian ia menyadari dan berkata: &#8216;sebenarnya, ini merupakan pemaksaan, Hai Umar&#8217;!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial Narrow';"><span> </span>b. &#8216;Dari mujahid, ia meriwayatkan dari ibnu abbas, ia berkata: &#8216;dulu saya tidak mengerti apa arti <em>fathir as-samaawaat,</em> setelah saya didatangi oleh dua orang badui yang berselisih mengenai sebuah sumur, baru saya mengerti. Salah seorang di antara mereka berkata: saya yang membuatnya, ia mengatakan saya yang memulainya.&#8217;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial Narrow';"><span> </span>c. &#8216;Ibnu juraih meriwayatkan dari said bin jubai bahwa ia pernah ditanya tentang firman Allah wahanaanan min ladunna. Kemudian ia menjawab: &#8216;saya bertanya kepada ibnu abbas, namun tak sedikit pun ia mampu menjawabnya. &#8216;juga dari ikrimah yang meriwayatkan dari ibnu Abbas, ia berkata: &#8216;Demi Allah, aku tidak mengetahui apa arti hanaanan&#8217;. Al-faryani meriwayatkan: &#8216;kami diberitahu oleh israil, kami diberitahu oleh sammak bin Harb, dari Ikrimah. &#8216;dari Ibnu Abbas, ia berkata: &#8216; semua kata- kata al-Qur&#8217;an saya ketahui kecuali empat kata, yaitu <em>Ghislin, Hanaanan, awwaahu, </em>dan <em>ar-raqiim.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial Narrow';"><span> </span>d. &#8216;Ibnu Abbas pernah mengatakan: &#8216; Aku tidak mengetahui apa arti firman Allah <em>Rabbana-ftah bainanaa wa baina qaumina bil al-haqq,</em> hingga aku mendengar ucapan binti dzi yazna: <em>ta&#8217;al ufattihuka, </em><span> </span>maksudnya kesinilah, aku akan memarahimu (menyelesaikan masalah denganmu).&#8217; Dari Mujahid, ia mriwayatkan dari ibnu abbas, ia berkata: &#8216;Aku tidak mengetahui apa itu <em>ghislin</em>, akan tetapi aku kira itu tumbuhan <em>zaquum&#8217;.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Para ulama kemudian membagi kata <em>gharib </em>ini ke dalam 2 bagian, yaitu :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0;text-align:justify;text-indent:27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Gharib Hasan,</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> maksudnya adalah suatu kata yang tidak ada cacat/ cela penggunaannya atas orang arab, misalnya kata: Syarnubus dsb, senada dengan hal tersbut, abdul hakimas-saylukuti mengatakan yang dimaksud <em>gharib hasan</em> itu suatu kata yang tidak terdapat kecacatan atas orang arab. Karena seperti kita ketahui lafadz itu terbagi ke dalam 3 bagian: 1). Lafadz yang digunakan secara mutlak, seperti kata Ard dan Sama&#8217;; 2). Lafadz yang jelek/tidak enak di dengar, seperti kata jahiisy; 3). Lafadz yang tidak dibenci, seperti lafaz </span><span dir="rtl" style="font-size:14pt;font-family:Arial;">كتكاءكاءتم </span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:13pt;font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span><span> </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">dan </span><span dir="rtl" style="font-size:14pt;font-family:Arial;">افرنقعوا</span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:13pt;font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span> .</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0;text-align:justify;text-indent:27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Gharib Qobih,</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> maksudnya adalah suatu kata yang tidak dikenal penggunaannya oleh mayoritas bangsa arab, cacat keberadaannya dan berat serta tidak enak di pendengaran. kata dalam konteks ini mustahil ada dalam firman Allah SWT dan ucapan rasul Muhammad SAW. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span> </span>Berikut adalah ssalah satu contoh ayat Qur&#8217;an yang berkaitan dengan konteks tafsir gharib al-Qur&#8217;an:</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial Narrow';">Artinya:</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8220;(62)(makanan surga) itukah hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum<a href="#_ftn11" title="_ftnref11" name="_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:'Arial Narrow';">[11]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a>.(63) Sesungguhnya Kami menjadikan pohon zaqqum itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim.(64) Sesungguhnya Dia adalah sebatang pohon yang ke luar dan dasar neraka yang menyala. (65). Mayangnya seperti kepala syaitan-syaitan. (66). Maka Sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, Maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. (67). Kemudian sesudah Makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas. (68). Kemudian Sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim&#8221;.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Demikianlah beberapa hal kajian yang berkenaan dengan konteks <em>Gharib </em>al-Qur&#8217;an. Betapa pentingnya tema gharib qur&#8217;an ini sampai- sampai rasul SAW bersabda : </span><span dir="rtl" style="font-size:14pt;font-family:Arial;">اعربوا القران والتمسوا غرائبه <a href="#_ftn12" title="_ftnref12" name="_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span dir="rtl"></span><span class="MsoFootnoteReference"><span dir="rtl" style="font-size:14pt;font-family:Arial;"><span dir="rtl"></span>[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span>, <em>Wallahu a&#8217;laam</em></span></p>
<p><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"></span></strong><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"></span></strong> <strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"></span></strong><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"></span></strong>    <strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"></span></strong><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">DAFTAR PUSTAKA</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"></span></strong><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Al- Qur&#8217;an al-Karim</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:left;text-indent:-27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">&#8216;Atha bin Khalil, Taisir al-Ushul ila al- Ushul,</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> beirut<em>, </em>dar Ummah<em>,</em> 2000</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:left;text-indent:-27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> </span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';">Muhammad bin Alawy al-Maliki, Dr. <em>Zubdah al-Itqan fi Ulum al-Qur&#8217;an,</em> (dialih bahasa oleh Drs. Rosihan Anwar, M.Ag), Jakarta, Pustaka Setia, 1999</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:left;text-indent:-27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> Manna Khalil al-Qattan (dialih bahasa oleh Drs. Mudzakir, AS), Studi Ilmu- ilmu al-Qur&#8217;an, Jakarta, 2001.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:left;text-indent:-27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> Zaqzuq, Muhammad Hamdi, <em>al- Mausu&#8217;ah al- Qur&#8217;aniyah al-Makhshushoh,</em> Kairo, 2002</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:left;text-indent:-27pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:'Arial Narrow';"> Rahman, Syaikh Khalid Abd, <em>Ushul At-Tafasir waqowaiduha, </em>Dar an-Nafais.</span></p>
<p><!--[if !supportFootnotes]--><!--[endif]--></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:27pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><a href="#_ftnref1" title="_ftn1" name="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial Narrow';">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:'Arial Narrow';"> Lihat dalam kamus lisan al-Arab ibn Manzur</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:27pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><a href="#_ftnref2" title="_ftn2" name="_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial Narrow';">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:'Arial Narrow';"> Seperti ada Hadits rasululloh yang berbunyi : &#8220;sesungguhnya islam pada awalnya asing dan akan kembali asing seperti pada awalnya&#8221; </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:27pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><a href="#_ftnref3" title="_ftn3" name="_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial Narrow';">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="rtl"></span><span dir="rtl"><span dir="rtl"></span> </span><span dir="ltr"></span><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span><span> </span>Syaidalah mengartikannya sebagai rumput, lihat kitab zubdah al-Itqan fi Ulum al-Qur&#8217;an, hal. 87.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:27pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><a href="#_ftnref4" title="_ftn4" name="_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial Narrow';">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="rtl"></span><span dir="rtl"><span dir="rtl"></span> </span><span dir="ltr"></span><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span><span> </span>Lihat Qs. Muzzamil : 6</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:27pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><a href="#_ftnref5" title="_ftn5" name="_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial Narrow';">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="rtl"></span><span dir="rtl"><span dir="rtl"></span> </span><span dir="ltr"></span><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span><span> </span>Dijelaskan dalam kitab Ushul Fiqh karangan &#8216;Atha bin Khalil bahwa adapun terdapatnya cakupan al-Qur&#8217;an yang diambil dari bahasa lain, maka sebenarnya kata- kata tersebut telah di <em>arabisasi</em> (mu&#8217;arrabah) sehingga menjadi bahasa arab. Orang arab sebelum turunnya al-Qur&#8217;an biasa menggunakan kata- kata dari bahasa lain sebagai nama yang belum ada di kalangan mereka kemudian mereka merubahnya sesuai aturan bahasa mereka danhuruf- hurufnya, sehingga menjadi bahasa arab seperti yang diciptakan oleh mereka sendiri. Para penyair jahiliyah sebelum turunnya al- Qur&#8217;an pun biasa menggunakan lafadz- lafadz <em>mu&#8217;arab</em>.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:27pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><a href="#_ftnref6" title="_ftn6" name="_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial Narrow';">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="rtl"></span><span dir="rtl"><span dir="rtl"></span> </span><span dir="ltr"></span><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span><span> </span>Hal tersebut seringkali Allah SWT tegaskan dalam berbagai tempat dalam al-Qur&#8217;an, misalnya dalam Qs. Yusuf: 2, Qs. Fushilat: 3</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:27pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><a href="#_ftnref7" title="_ftn7" name="_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial Narrow';">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="rtl"></span><span dir="rtl"><span dir="rtl"></span> </span><span dir="ltr"></span><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span><span> </span>Menurut keterangan ahli kitab tersebut bernama Jabru ar-Rumi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><a href="#_ftnref8" title="_ftn8" name="_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial Narrow';"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial Narrow';">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial Narrow';"> Bahasa &#8216;Ajam ialah bahasa selain bahasa Arab dan dapat juga berarti bahasa Arab yang tidak baik, karena orang yang dituduh mengajar Muhammad itu bukan orang Arab dan hanya tahu sedikit-sedikit bahasa Arab.</span></p>
<p><span style="font-family:'Arial Narrow';"></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:27pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><a href="#_ftnref9" title="_ftn9" name="_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial Narrow';">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="rtl"></span><span dir="rtl"><span dir="rtl"></span> </span><span style="font-family:'Arial Narrow';">Dalam hal ini al-Qurtubi sendiri menyepakati pendapat jumhur dan menolak pendapat kedua, beliau mengatakan &#8220;pendapat kedua itu lebih benar dengan alasan bahwa orang- orang arab tidak terlepas dari dua kemungkinan, adakalanya mereka mengemukakan bahasa arab dalam percakapannya, adakalanya juga tidak menggunakannya. Jika menggunakannya berarti ucapannya adalah bahasa Arab dan selain orang arab pun akan menyamai sebagian kata- katanya. Dan jika orang arab tidak menggunakannya dalam percakapan mereka dan yang lain tidak mengerti bahasa arab, maka mustahil Allah memberikan kitab kepada mereka dengan bahasa yang tidak dimengerti. Jelaslah, apabila al-Qur&#8217;an itu bukan bahasa Arab, berarti rasul SAW tidak berdakwah kepada kaumnya dengan bahasa mereka. </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:27pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><a href="#_ftnref10" title="_ftn10" name="_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial Narrow';">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="rtl"></span><span dir="rtl"><span dir="rtl"></span> </span><span dir="ltr"></span><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span><span> </span>Untuk lebih lengkapnya lihat buku Ushul Fiqh karangan &#8216;Atha bin Khalil, hal 156- 210.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:27pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><a href="#_ftnref11" title="_ftn11" name="_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial Narrow';">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="rtl"></span><span dir="rtl"><span dir="rtl"></span> </span><strong><span dir="rtl" style="font-family:'Traditional Arabic';color:red;">الزقوم</span></strong><strong><span dir="rtl" style="font-family:'Traditional Arabic';color:black;">) عبارة عن أطعمة كريهة في النار</span></strong><span dir="ltr"></span><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span dir="ltr"></span>. Sementara itu al- baghawi dalam tafsirnya mengkisahkan kekhawatiran Muhammad atas ayat di atas yang kemudian Muhammad SAW mengundang dan mengumpulkan mereka termasuk abu jahal di rumahnya lalu menjelaskan bahwa yang namanya zaqum itu adalah <em>Innaha syajarotun takhruju fii ashli al-Zahiim.</em></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:27pt;text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><a href="#_ftnref12" title="_ftn12" name="_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:'Arial Narrow';"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Arial Narrow';">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="rtl"></span><strong><span dir="rtl"><span dir="rtl"></span><span>  </span></span></strong><strong><span dir="rtl">اخرج البيهاقى من حديث أبى هريرة</span></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hidayat1980.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hidayat1980.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hidayat1980.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hidayat1980.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hidayat1980.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hidayat1980.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hidayat1980.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hidayat1980.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hidayat1980.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hidayat1980.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hidayat1980.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hidayat1980.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hidayat1980.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hidayat1980.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hidayat1980.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hidayat1980.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hidayat1980.wordpress.com&amp;blog=972420&amp;post=8&amp;subd=hidayat1980&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hidayat1980.wordpress.com/2007/04/11/8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b1f409fdc24aa21b7e66e7776a71900?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syahid1980</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://hidayat1980.wordpress.com/2007/04/10/tes/</link>
		<comments>http://hidayat1980.wordpress.com/2007/04/10/tes/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Apr 2007 18:49:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syahid1980</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hidayat1980.wordpress.com/2007/04/10/tes/</guid>
		<description><![CDATA[Melacak Paradigma Pendidikan Islam; sebuah tinjauan sejarah Syarif Hidayat, S.Pd (ed.) A. Pendahuluan Pendidikan dalam Islam merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju taklif (kedewasaan), baik secara akal, mental maupun moral, untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban-sebagai seorang hamba (abd) dihadapan Khaliq-nya dan sebagai &#8216;pemelihara&#8217; (khalifah) pada semesta[1]. Karenanya, fungsi utama pendidikan adalah mempersiapakn peserta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hidayat1980.wordpress.com&amp;blog=972420&amp;post=3&amp;subd=hidayat1980&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 align="center"><span style="font-size:11pt;color:black;">Melacak Paradigma Pendidikan Islam; sebuah tinjauan sejarah</span></h2>
<h2 align="center"><span style="font-size:11pt;color:black;">Syarif Hidayat, S.Pd (ed.)</span></h2>
<h2><span style="font-size:11pt;color:black;">A.<span>        </span>Pendahuluan</span><span style="font-size:11pt;color:black;font-weight:normal;"></span></h2>
<p style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;color:black;">Pendidikan dalam Islam merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju taklif (kedewasaan), baik secara akal, mental maupun moral, untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban-sebagai seorang hamba (abd) dihadapan Khaliq-nya dan sebagai &#8216;pemelihara&#8217; (khalifah) pada semesta<a href="#_ftn1" title="_ftnref1" name="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';color:black;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>. Karenanya, fungsi utama pendidikan adalah mempersiapakn peserta didik (generasi penerus) dengan kemampuan dan keahlian (skill) yang diperlukan agar memiliki kemampuan dan kesiapan untuk terjun ke tengah masyarakat (lingkungan). Dalam lintasan sejarah peradaban Islam, peran pendidikan ini benar-benar bisa dilaksanakan pada masa-masa kejayaan Islam. Hal ini dapat kita saksikan, di mana pendidikan benar-benar mampu membentuk peradaban sehingga peradaban Islam menjadi peradaban terdepan sekaligus peradaban yang mewarnai sepanjang Jazirah Arab, Asia Barat hingga Eropa Timur. Untuk itu, adanya sebuah paradigma pendidikan yang memberdayakan peserta didik merupakan sebuah keniscayaan.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;color:black;">Kemajuan peradaban dan kebudayaan Islam pada masa kejayaan sepanjang abad pertengahan, di mana peradaban dan kebudayaan Islam berhasil menguasai jazirah Arab, Asia Barat dan Eropa Timur, tidak dapat dilepaskan dari adanya sistem dan paradigma pendidikan yang dilaksanakan pada masa tersebut.<span id="more-3"></span>Kesadaran akan urgensi ilmu pengetahuan dan pendidikan di kalangan umat Islam ini tidak muncul secara spontan dan mendadak, namun kesadaran ini merupakan efek dari sebuah proses panjang yang dimulai pada masa awal Islam (masa ke-Rasul-an Muhammad). Pada masa itu Muhammad senantiasa menanamkan kesadaran pada sahabat dan pengikutnya (baca; umat Islam) akan urgensi ilmu dan selalu mendorong umat untuk senantiasa mencari ilmu. Hal ini dapat kita buktikan dengan adanya banyak hadis yang menjelaskan tentang urgensi dan keutamaan (hikmah) ilmu dan orang yang memiliki pengetahuan. Bahkan dalam sebuah riwayat yang sangat termashur disebutkan bahwa Muhammad menyatakan menuntut ilmu merupakan sesuatu yang diwajibkan bagi umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan.<br />
Setelah ke-wafat-an Muhammad, para sahabat dan umat Islam secara umum tetap melanjutkan misi ini dengan menanamkan kesadaran akan urgensi ilmu pengetahuan kepada generasi-generasi sesudahnya, sehingga kesadaran ini menjadi sesuatu yang mendarah daging di kalangan umat Islam dan mencapai puncaknya pada abad XI sampai awal abad XIII M.<br />
Namun demikian, seiring dengan kemunduran Islam-terutama setelah kejatuhan Bagdad tahun 1258 M&#8211;, pendidikan dalam dunia Islam pun ikut mengalami kemunduran dan ke-jumud-an. Sehingga, pendidikan tidak lagi mampu menjadi sebuah &#8216;sarana pendewasaan&#8217; umat. Dengan kata lain, sebagaimana dinyatakan Fazlur Rahman, pendidikan menjadi tidak lebih dari sekedar sarana untuk mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai &#8216;lama&#8217; (tradisional) dari ancaman &#8216;serangan&#8217; gagasan Barat yang dicurigai akan meruntuhkan tradisi Islam, terutama &#8216;standar&#8217; moralitas Islam . Pendidikan tidak lagi mampu menjadi sebuah proses intelektualisasi yang merekonstruksi paradigma (pola pikir) peserta didik melalui interpretasi secara continue dengan berbagai disiplin ilmu sesuai perkembangan jaman .<br />
Akibatnya, pendidikan Islam melakukan proses &#8216;isolasi&#8217; diri sehingga pendidikan Islam akhirnya termarginalisasi dan &#8216;gagap&#8217; terhadap perkembangan pengetahuan maupun tehnologi. Melihat fenomena di atas, adanya upaya untuk menemukan kembali semangat (girah) pendidikan Islam tampaknya diperlukan, Hal ini merupakan salah satu upaya untuk mengangkat kembali dunia ke-pendidikan Islam sehingga kembali mampu survive di tengah masyarakat. Dan sebagai langkah awal untuk menemukan kembali semangat ini, tampaknya dapat dilakukan dengan mencoba melihat &#8216;kilasan&#8217; perjalanan pendidikan Islam dari masa awal hingga sekarang.<br />
B.	Sekilas Perjalanan (Sejarah) Pendidikan Islam<br />
Meskipun penanaman kesadaran akan urgensi ilmu sudah dimulai pada masa Muhammad, bahkan pada masa-masa akhir sebelum Muhammad wafat kesadaran akan pentingnya ilmu bagi kehidupan-dapat dikatakan-sudah mendarah daging di kalangan umat Islam , namun cikal bakal pendidikan Islam (dalam sebuah institusi) baru dimulai pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab (Nasr,1994).<br />
Cikal bakal pendidikan Islam dimulai ketika Umar, secara khusus, mengirimkan &#8216;petugas khusus&#8217; ke berbagai wilayah Islam untuk menjadi nara sumber (baca; guru) bagi masyarakat Islam di wilayah-wilayah tersebut. Para &#8216;petugas khusus&#8217; ini biasanya bermukim di masjid (mungkin semacam ta&#8217;mir pada masa sekarang) dan mengajarkan tentang Islam kepada masyarakat melalui halaqah-halaqah-majlis khusus untuk menpelajari agama dan terbuka untuk umum<br />
Pada perkembangan selanjutnya, materi yang diperbincangkan pada halaqah-halaqah ini tidak hanya terbatas pada pengkajian agama (baca; Islam), namun juga mengkaji disiplin dan persoalan lain sesuai dengan apa yang diperlukan masyarakat. Selain itu, diajarkan pula disiplin-disiplin yang menjadi pendukung kajian agama Islam. Dalam hal ini antara lain kajian tentang bahasa dan sastra Arab, baik nahwu, sorof maupun balagah. Selain terjadi pengembangan materi, terdapat pula perkembangan di bidang sarana dan prasarana &#8216;pendidikan&#8217;, yakni adanya upaya untuk membuat tempat khusus di (samping) masjid yang digunakan untuk melakukan kajian-kajian tersebut. Tempat khusus ini kemudian dikenal sebagai Maktab. Maktab inilah yang dapat dikatakan sebagai cikal bakal institusi pendidikan Islam (Nasr, 1994).<br />
Al-Ma&#8217;mun, salah satu khalifah Daulat Bani Abbasiyah, mendirikan Bait al-Hikmah di Bagdad pada tahun 815 M&#8212; sebuah institusi yang cukup layak disebut sebagai institusi pendidikan . Pada Bait al-Hikmah ini terdapat ruang-ruang kajian, perpustakaan dan observatorium (laboratorium). Meskipun demikian, Bait al-Hikmah belum dapat dikatakan sebagai sebuah institusi pendidikan yang &#8216;cukup sempurna&#8217;, karena sistem pendidikan masih sekedarnya dalam majlis-majlis kajian dan belum terdapat &#8216;kurikulum pendidikan&#8217; yang diberlakukan di dalamnya.<br />
Institusi pendidikan Islam yang mulai menggunakan sistem pendidikan &#8216;modern&#8217; baru muncul pada akhir abad X M dengan didirikannya Perguruan (Universitas) al-Azhar di Kairo oleh Jendral Jauhar as-Sigli-seorang panglima perang dari Daulat Bani Fatimiyyah-pada tahun 972 M. Pada al-Azhar, selain dilengkapi dengan perpustakaan dan laboratorium, mulai diberlakukan sebuah &#8216;kurikulum pengajaran&#8217;. Pada kurikulum ini diatur urutan materi beserta disiplin-disiplin yang harus diajarkan kepada peserta didik. Meski pendirian al-Azhar bertujuan sebagai wadah &#8216;kaderisasi&#8217; bagi kader-kader Syi&#8217;ah, namun kurikulum yang berlaku dapat dianggap sebagai sebuah kurikulum yang berimbang. Pada kurikulum al-Azhar diajarkan disiplin-disiplin ilmu agama dan juga disiplin-disiplin ilmu &#8216;umum&#8217; (aqliyyah). Ilmu agama yang ada dalam kurikulum al-Azhar antara lain tafsir, hadis, fiqh, qira&#8217;ah, teologi (kalam), sedang ilmu akal yang ada dalam kurikulum al-Azhar antara lain filsafat, logika, kedokteran, matematika, sejarah dan geografi. Ketika Salahuddin al-Ayyubi (seorang sunni) pada abad XI M berhasil menguasai Kairo, sebagai pusat Bani Fatimiyyah, ia memandang adanya al-Azhar sebagai sebuah institusi pendidikan sebagai sesuatu yang sangat penting, sehingga keberadaan al-Azhar tidak diusik sama sekali, selain peniadaan materi-materi yang berbau syi&#8217;ah. Bahkan pada masa Salahuddin inilah al-Azhar berada dalam puncak kejayaan, di mana al-Azhar, menurut beberapa kalangan, dianggap mampu melaksanakan kurikulum yang berimbang antara materi agama dan pengembangan intelektual .<br />
Institusi pendidikan Islam ideal dari masa kejayaan Islam lainnya adalah Perguruan (Madrasah) Nizamiyah. Perguruan ini diprakarsai dan didirikan oleh Nizam al-Mulk-perdana menteri pada kesultanan Seljuk pada masa Malik Syah-pada tahun 1066/1067 M di Bagdad dan beberapa kota lain di wilayah kesultanan Seljuk. Madrasah Nizamiyah sebenarnya didirikan sebagai upaya membendung arus propaganda syi&#8217;ah yang berpusat di Kairo dengan al-Azharnya. Madrasah Nizamiyah pun telah memiliki spesifikasi khusus sebagai sebuah institusi pendidikan dengan spesifikasi pada teologi dan hukum Islam. Dan karena spesifikasi ini pulalah Madrasah Nizamiyah sering disebut sebagai Universitas Ilmu Pengetahuan Teologi Islam.<br />
Madrasah Nizamiyah merupakan perguruan pertama Islam yang menggunakan sistem sekolah. Artinya, dalam Madrasah Nizamiyah telah ditentukan waktu penerimaan siswa, test kenaikan tingkat dan juga ujian akhir kelulusan. Selain itu, Madrasah Nizamiyah telah memiliki manajemen tersendiri dalam pengelolaan dana, memiliki kelengkapan fasilitas pendidikan-dengan perpustakaan yang berisi lebih dari 6000 judul buku yang telah diatur secara katalog dan juga laboratorium&#8211;, memiliki sistem perekrutan tenaga pengajar yang ketat dan pemberian bea siswa untuk yang berprestasi. Sehingga Charles Michael Stanton menyatakan bahwa Madrasah Nizamiyah merupakan Perguruan Islam modern yang pertama.<br />
Meski Madrasah Nizamiyah memiliki spesifikasi pada kajian teologi dan hukum Islam, namun dalam kurikulum yang digunakan terdapat pula perimbangan yang proporsional antara disiplin ilmu keagamaan (tafsir, hadis, fiqh, kalam dan lainnya) dan disiplin ilmu aqliyah (filsafat, logika, matematika, kedokteran dan lailnnya). Bahkan, pada masa itu, kurikulum Nizamiyah menjadi kurikulum rujukan bagi institusi pendidikan lainnya.<br />
Selain adanya institusi pendidikan yang memiliki kapabilitas tinggi, pada masa kejayaan Islam, kegiatan keilmuan benar-benar mendapat perhatian &#8216;serius&#8217; dari pemerintah. Sehingga kebebasan akademik benar-benar dapat dilaksanakan, kebebasan berpendapat benar-benar dihargai, kalangan akademis selalu didorong untuk senantiasa mengembangkan ilmu melalui forum-forum diskusi, perpustakaan selalu terbuka untuk umum, bahkan perpustakaan pribadi dan istana pun terbuka untuk umum Namun setelah kejatuhan Bagdad pada tahun 1258 M, dunia pendidikan Islam pun mengalami kemunduran dan kejumudan. Paradigma pendidikan Islam pun mengalami distorsi besar-besaran. Dari serbuah paradigma yang progresif dengan dilandasi keinginan menegakkan agama Allah menjadi paradigma yang sekedar mempertahankan apa yang telah ada.<br />
C.	Rekonstruksi Paradigma Pendidikan Islam<br />
Tujuan akhir pendidikan dalam Islam adalah proses pembentukan diri peserta didik (manusia) agar sesuai dengan fitrah keberadaannya . Hal ini meniscayakan adanya kebebasan gerak bagi setiap elemen dalam dunia pendidikan -terutama peserta didik&#8211; untuk mengembangkan diri dan potensi yang dimilikinya secara maksimal. Pada masa kejayaan Islam, pendidikan telah mampu menjalankan perannya sebagai wadah pemberdayaan peserta didik, namun seiring dengan kemunduran dunia Islam, dunia pendidikan Islam pun turut mengalami kemunduran. Bahkan dalam paradigma pun terjadi pergeseran dari paradigma aktif-progresif menjadi pasid-defensif. Akibatnya, pendidikan Islam mengalami proses &#8216;isolasi diri&#8217; dan termarginalkan dari lingkungan di mana ia berada.<br />
Dari gambaran masa kejayaan dunia pendidikan Islam di atas, terdapat beberapa hal yang dapat digunakan sebagai upaya untuk kembali membangkitkan dan menempatkan dunia pendidikan Islam pada peran yang semestinya sekaligus menata ulang paradigma pendidikan Islam sehingga kembali bersifat aktif-progresif, yakni :<br />
Pertama, menempatkan kembali seluruh aktifitas pendidikan (talab al-ilm) di bawah frame work agama. Artinya, seluruh aktifitas intelektual senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai agama (baca; Islam), di mana tujuan akhir dari seluruh aktifitas tersebut adalah upaya menegakkan agama dan mencari ridlo Allah.<br />
Kedua, adanya perimbangan (balancing) antara disiplin ilmu agama dan pengembangan intelektualitas dalam kurikulum pendidikan. Salah satu faktor utama dari marginalisasi dalam dunia pendidikan Islam adalah kecenderungan untuk lebih menitik beratkan pada kajian agama dan memberikan porsi yang berimbang pada pengembangan ilmu non-agama, bahkan menolak kajian-kajian non-agama. Oleh karena itu, penyeimbangan antara materi agama dan non-agama dalam dunia pendidikan Islam adalah sebuah keniscayaan jika ingin dunia pendidikan Islam kembali survive di tengah masyarakat.<br />
Ketiga, perlu diberikan kebebasan kepada civitas akademika untuk melakukan pengembangan keilmuan secara maksimal. Karena, selama masa kemunduran Islam, tercipta banyak sekat dan wilayah terlarang bagi perdebatan dan perbedaan pendapat yang mengakibatkan sempitnya wilayah pengembangan intelektual. Dengan menghilangkan ,minimal membuka kembali, sekat dan wilayah-wilayah yang selama ini terlarang bagi perdebatan, maka wilayah pengembangan intelektual akan semakin luas yang, tentunya, akan membuka peluang lebih lebar bagi pengembangan keilmuan di dunia pendidikan Islam pada khususnya dan dunia Islam pada umumnya.<br />
Keempat, mulai mencoba melaksanakan strategi pendidikan yang membumi. Artinya, strategi yang dilaksanakan disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan di mana proses pendidikan tersebut dilaksanakan. Selain itu, materi-materi yang diberikan juga disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada, setidaknya selalu ada materi yang applicable dan memiliki relasi dengan kenyataan faktual yang ada. Dengan strategi ini diharapkan pendidikan Islam akan mampu menghasilkan sumber daya yang benar-benar mampu menghadapi tantangan jaman dan peka terhadap lingkungan.<br />
Kemudian, satu faktor lain yang akan sangat membantu adalah adanya perhatian dan dukungan para pemimpin (pemerintah) atas proses penggalian dan pembangkitan dunia pendidikan Islam ini. Adanya perhatian dan dukungan pemerintah akan mampu mempercepat penemuan kembali paradigma pendidikan Islam yang aktif-progresif, yang dengannya diharapkan dunia pendidikan Islam dapat kembali mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana pemberdayaan dan pendewasaan umat.</span></p>
<p>SUMBER PUSTAKA :<br />
Muhammad al-Nauqib-al-Attas, 1984, Konsep Pendidikan dalam Islam, suatu rangka<br />
fikir Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam, Mizan, Bandung<br />
Fazlur Rahman, Islam and Modernity, Transformation of an Intellectual Tradition,<br />
The University of Chicago, Chicagi, 1982., terj. Ahsin Mohammad, Pustaka, 1985.<br />
Ahmad Tafsir,  1994, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Remaja Rosda Karya,<br />
Bandung.</p>
<p>http://www.sanaky.com/hujair-sanaky</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hidayat1980.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hidayat1980.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hidayat1980.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hidayat1980.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hidayat1980.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hidayat1980.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hidayat1980.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hidayat1980.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hidayat1980.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hidayat1980.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hidayat1980.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hidayat1980.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hidayat1980.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hidayat1980.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hidayat1980.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hidayat1980.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hidayat1980.wordpress.com&amp;blog=972420&amp;post=3&amp;subd=hidayat1980&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hidayat1980.wordpress.com/2007/04/10/tes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b1f409fdc24aa21b7e66e7776a71900?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syahid1980</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Komentar, boleh!</title>
		<link>http://hidayat1980.wordpress.com/2007/04/10/hello-world/</link>
		<comments>http://hidayat1980.wordpress.com/2007/04/10/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Apr 2007 18:44:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syahid1980</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Saudara sangat &#8216;diperbolehkan&#8217; memberikan komentar atas tulisan ini!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hidayat1980.wordpress.com&amp;blog=972420&amp;post=1&amp;subd=hidayat1980&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saudara sangat &#8216;diperbolehkan&#8217; memberikan komentar atas tulisan ini!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hidayat1980.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hidayat1980.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hidayat1980.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hidayat1980.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hidayat1980.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hidayat1980.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hidayat1980.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hidayat1980.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hidayat1980.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hidayat1980.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hidayat1980.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hidayat1980.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hidayat1980.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hidayat1980.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hidayat1980.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hidayat1980.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hidayat1980.wordpress.com&amp;blog=972420&amp;post=1&amp;subd=hidayat1980&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hidayat1980.wordpress.com/2007/04/10/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7b1f409fdc24aa21b7e66e7776a71900?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">syahid1980</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
